Sunday, February 18, 2007

Museum Asmat


Setelah Ibu Tien Soeharto mengunjungi Anjungan Irian Jaya pada Pameran Produksi Indonesia I pada tahun 1985, beliau segera menggagaskan adanya suatu tempat yang memamerkan hasil kerajinan dan karya seni Asmat. Pameran semacam ini tidak dapat ditampung hanya di Anjungan Irian Jaya di TMII, tetapi harus disediakan tempat khusus yang memadai. Museum Asmat, khusus dibangun untuk maksud tersebut. Museum Asmat dibangun di areal Taman Bunga Keong Emas.

Bentuk bangunannya berdasarkan arsitektur asli Kariwari, suku Tobati Enggros yang mendiami pulau di Teluk Jayawijaya. Bangunan ini berbentuk kerucut bersusun tiga, yang digunakan untuk menampung karya seni yang bernilai tinggi dan unik. Dalam bangunan Kariwari ini juga diberikan sentuhan Asmat misalnya dengan menambahkan ornamen-ornamen tradisional Asmat di bagian luar bangunan Kariwari.

Benda-benda peragaan yang ditampilkan di museum ini merupakan benda-benda kebudayaan Asmat yang mengandung nilai keperkasaan dan dapat mengungkap pandangan hidup. Kesemuanya dilambangkan dalam ukiran-ukiran yang mengagumkan. Nilai benda-benda yang dipamerkan sangat tinggi untuk pendalaman ilmu antropologi masyarakat tradisional dan peninggalan nilai-nilai budaya awal yang bermakna tinggi dalam kehidupan modern.

Dari benda-benda peragaan yang menarik ialah Patung Arwah atau yang disebut Mbis. Patung ini mengisahkan kepahlawanan dan ungkapan kehadiran para leluhur. Selain itu ada perahu arwah yang disebut Wuramon yang dipercaya sebagai kendaraan yang digunakan oleh para roh untuk dapat mengembara. Masing-masing benda lain yang diperagakan juga dilengkapi dengan keterangan dan kegunaannya.

Thursday, February 01, 2007

ASMAT TRIBE - IRIAN JAYA

ASMAT TRIBE - IRIAN JAYA

Asmat is probably the most well known tribe in Papua (formerly called Irian Jaya). They become famous not only through their head-hunting practices in the past, but also because of their unique ideas and wonderful designs in woodcarving.

The name most probably comes from the Asmat words As Akat, which according to Asmat people means "the right man". Moreover, it's also said that Asmat comes from the word Osamat that means "man from tree". The Asmat's neighbors to the west, the Mimika, however, claim the name is derived from their word for the tribe- "manue", meaning "man eater".

Natives of the region are divided into two main groups; those living along the coasts, and those in the interior. They differ in dialect, way of life, social structure, and ceremonies. The coastal rivers are further divided into two groups, the Bisman people between the Sinesty and Nin Rivers, and the Simai people.

Around 70,000 Asmat, the area's largest tribe, are scattered in 100 villages in a territory of roughly 27,000 square km live in a huge tidal swamp land. The tribe was untouched by civilization until recent times. Dutch outpost, missionary settlements, and foreign expeditions finally made in road on this isolated culture during the 1950 and 60's.

Formerly, the families of the entire tribe resided together in houses up to 28 meters long called yeus. Yeus still used, but not only by men, as clubhouse where bachelors sleep. Upriver Asmat still live in longhouses, some even construct houses in treetops.

The Asmat live on sago, their staple, as well as mussels, snails, and fat insect larvae collected from decaying stumps of sago palms. These last are eaten to the accompaniment of throbbing drums and ritual dances; larvae feast can sometimes last up to two weeks. The Asmat also gather forest products such as rattan, catch fish and shrimp in large hoop nets.

ASMAT ART & FESTIVAL

To the Asmat, woodcarving was inextricably connected with the spirit world, and therefore, the carving cannot just be principally considered aesthetic objects. Much of the highly original art of the Asmat is symbolic of warfare, headhunting, and warrior-ancestor veneration. For centuries the Asmat were preoccupied with the necessity of appeasing ancestor spirits, producing a wealth of superbly designed shields, canoes, sculptured figures, and drums.

Asmat woodcarving is considered one among the world's finest. Much of the highly original art of the Asmat is symbolic of warfare, headhunting, and warrior-ancestor veneration. For centuries the Asmat were preoccupied with the necessity of appeasing ancestor spirits, producing a wealth of superbly designed shields, canoes, sculptured figures, and drums.

The Asmat Woodcarving Festival will held once a year in October

THE LAND
Almost the entire Asmat region is covered in water during the rainy season, when high tide reaches up to two km inland and low tide flows up to two km out to sea. This is the largest alluvial swamp in the world, a low-lying stone less territory of bog forest and meandering rivers emptying into the Arafura sea.

FLORA & FAUNA
In the rivers swarm with shrimp, fish, lobster, crab, fresh water dolphin, sea snake and crocodiles. Living along the banks are lizards, that grow longer than the Komodo dragon. The forests contain palms, ironwood, merak wood, and mangroves, and are home for crown pigeons, hornbills, and cockatoos. There are grass meadows, and flowers like the Dedrobium orchid.

CLIMATE

The climate is hot and humid. The rainy season stretches from October to May, with an average of 40 cm of precipitation each year. The east monsoon season runs from April to June, west monsoons strike December to March.

Sunday, March 26, 2006

Adat Istiadat Suku Asmat

Seperti telah kita ketahui bahwa Indonesia terdiri dari berbagai jenis suku dengan aneka adat istiadat yang berbeda satu sama lain.Suku-suku tersebut ada yang tinggal di pesisir pantai, perkotaan bahkan dipedalaman. Salah satu diantaranya Suku Asmat.

Suku Asmat berada di antara Suku Mappi, Yohukimo dan Jayawijaya di antara berbagai macam suku lainnya yang ada di Pulau Papua. Sebagaimana suku lainnya yang berada di wilayah ini, Suku Asmat ada yang tinggal di daerah pesisir pantai dengan jarak tempuh dari 100 km hingga 300 km, bahkan Suku Asmat yang berada di daerah pedalaman, dikelilingi oleh hutan heterogen yang berisi tanaman rotan, kayu (gaharu) dan umbi-umbian dengan waktu tempuh selama 1 hari 2 malam untuk mencapai daerah pemukiman satu dengan yang lainnya. Sedangkan jarak antara perkampungan dengan kecamatan sekitar 70 km. Dengan kondisi geografis demikian, maka berjalan kaki merupakan satu-satunya cara untuk mencapai daerah perkampungan satu dengan lainnya.

Secara umum, kondisi fisik anggota masyarakat Suku Asmat, berperawakan tegap, hidung mancung dengan warna kulit dan rambut hitam serta kelopak matanya bulat. Disamping itu, Suku Asmat termasuk ke dalam suku Polonesia, yang juga terdapat di New Zealand, Papua Nugini.

Dalam kehidupannya, Suku Asmat memiliki 2 jabatan kepemimpinan, yaitu a. Kepemimpinan yang berasal dari unsur pemerintah dan b. Kepala adat/kepala suku yang berasal dari masyarakat.
Sebagaimana lainnya, kapala adat/kepala suku dari Suku Asmal sangat berpengaruh dan berperan aktif dalam menjalankan tata pemerintahan yang berlaku di lingkungan ini. Karena segala kegiatan di sini selalu didiihului oleh acara adal yang sifatnya tradisional, sehingga dalam melaksanakan kegiatan yang sifatnya resmi, diperlukan kerjasama antara kedua pimpinan ssangat diperlukan untuk memperlancar proses tersebut.

Bila kepala suku telah mendekati ajalnya, maka jabatan kepala suku tidak diwariskan ke generasi berikutnya, tetapi dipilih dari orang yang berasal dari fain, atau marga tertua di lingkungan tersebut atau dipilih dari seorang pahlawan yang berhasil dalam peperangan.
Sebelum para misionaris pembawa ajaran agama datang ke wilayah ini, masyarakat Suku Asmat menganut Anisme. Dan kini, masyarakat suku ini telah menganut berbagai macam agama, seperti Protestan, Khatolik bahkan Islam.

Dalam menjalankan proses kehidupannya, masyarakat Suku Asmat, melalui berbagai proses, yaitu :
  1. Kehamilan, selama proses ini berlangsung, bakal generasi penerus dijaga dengan baik agar dapat lahir dengan selamat dengan bantuan ibu kandung alau ibu mertua.
  2. Kelahiran, tak lama setelah si jabang bayi lahir dilaksanakan upacara selamatan secara sederhana dengan acara pemotongan tali pusar yang menggunakan Sembilu, alat yang terbuat dari bambu yang dilanjarkan. Selanjutnya, diberi ASI sampai berusia 2 tahun atau 3 tahun.
  3. Pernikahan, proses ini berlaku bagi seorang baik pria maupun wanita yang telah berusia 17 tahun dan dilakukan oleh pihak orang tua lelaki setelah kedua belah pihak mencapai kesepakatan dan melalui uji keberanian untuk membeli wanita dengan mas kawinnya piring antik yang berdasarkan pada nilai uang kesepakatan kapal perahu Johnson, bila ternyata ada kekurangan dalam penafsiran harga perahu Johnson, maka pihak pria wajib melunasinya dan selama masa pelunasan pihak pria dilarang melakukan tindakan aniaya walaupun sudah diperbolehkan tinggal dalam satu atap. Dalam memenuhi kebutuhan biologisnya, baik kaum pria maupun wanita melakukannya di ladang atau kebun, disaat prianya pulang dari berburu dan wanitanya sedang berkerja di ladang. Selanjutnya, ada peristiwa yang unik lainnya dimana anak babi disusui oleh wanita suku ini hingga berumur 5 tahun.
  4. Kematian, bila kepala suku atau kepala adat yang meninggal, maka jasadnya disimpan dalam bentuk mumi dan dipajang di depan joglo suku ini, tetapi bila masyarakat umum, jasadnya dikuburkan. Proses ini dijalankan dengan iringan nyanyian berbahasa Asmat dan pemotongan ruas jari tangan dari anggota keluarga yang ditinggalkan.

Melakukan kegiatan bercocok tanam di ladang, dengan jenis tanamannya wortel, matoa, jeruk, jagung, ubi jalar dan keladi juga beternak ayam, babi. Demikian menariknya adat istiadat suku ini, sehingga perlu dilestarikan. Disamping itu juga, dapat digunakan sebagai obyek pariwisata untuk mendapatkan devisa bagi negara.

Secara umum, kondisi fisik anggota masyarakat Suku Asmat, berperawakan tegap, hidung mancung dengan warna kulit dan rambut hitam serta kelopak matanya bulat. Disamping itu, Suku Asmat termasuk ke dalam suku Polonesia, yang juga terdapat di New Zealand dan Papua Nugini.


(Sumber: http://www.katcenter.info)

re-post by Sales GTA DotCom
http://www.grosirtanahabang.com

Selamat Datang Di Galeri Asmat

Selamat Datang di Galeri Asmat

Weblog ini merupakan salah satu dari divisi www.grosirtanahabang.com dan www.grosir-tanah-abang.com yang mengkhususkan diri untuk menyajikan produk-produk seni dari suku Asmat Papua.

Di sini juga akan disajikan sekilas informasi kebudayaan suku Asmat.

Kabupaten Asmat

KARAKTERISTIK wilayahnya memang unik. Dataran coklat lembek yang tertutup oleh jaring laba-laba sungai. Di bagian utara, kaki Pegunungan Jayawijaya tampak membentengi sebagian wilayah pecahan Kabupaten Merauke ini. Bagian barat dan selatan dikelilingi oleh Laut Arafuru. Semua wilayah tersebut dipayungi oleh hijaunya hutan rimba tropis. Itulah sekilas gambaran Kabupaten Asmat.

KABUPATEN yang dihuni suku Asmat ini hampir semua wilayahnya berada di tanah berawa. Hampir setiap hari hujan turun dengan curah 3.000-4.000 milimeter per tahun. Setiap hari juga pasang surut laut masuk ke wilayah ini. Tidak mengherankan jika permukaan tanah sangat lembek dan berlumpur. Tanah dengan kondisi seperti itu tidak mungkin dibuat jalan beraspal. Akhirnya, jalan hanya dibuat dari papan kayu yang ditumpuk di atas tanah lembek. Praktis tidak semua kendaraan bermotor bisa melalui jalan ini. Orang yang berjalan harus berhati-hati agar tidak terpeleset, terutama saat hujan.

Paling aman menggunakan transportasi air melalui sungai. Perahu, longboat, dan speedboat sering menjadi pilihan untuk perjalanan antarkampung dan distrik. Bahkan, untuk mencari sagu dan gaharu di hutan pun mereka menggunakan perahu. Moda utama transportasi masyarakat Asmat ini terbuat dari kayu besi yang panjangnya rata-rata delapan meter. Sepanjang badan perahu diberi pewarna merah dan putih dengan cat bubuk kerang, sedangkan di ujung perahu terdapat ukiran khas Asmat. Uniknya, mereka bisa mendayung sambil berdiri.

Wilayahnya yang berbatasan dengan Laut Arafuru dan terkepung kaki Pegunungan Jayawijaya membuat Kabupaten Asmat terisolasi dan hanya dijangkau transportasi air dan udara. Memanfaatkan transportasi air agaknya jadi pilihan masyarakat. Tiket kapal perintis tujuan Merauke-Agats Rp 50.000-Rp 100.000. Perjalanan ditempuh dua hari dua malam jika cuaca normal. Bila cuaca buruk, perjalanan bisa sekitar lima hari. Kapal perintis tak hanya berlabuh di Agats, tapi di Distrik Atsy, Sawa Erma, dan Pantai Kasuari yang berbatasan dengan Laut Arafuru.

Transportasi udara sangat mahal dan terbatas. Hanya Distrik Agats dan Pantai Kasuari yang terjangkau transportasi udara. Agats mempunyai lapangan terbang dengan landasan 600 x 20 meter menggunakan permukaan landasan tikar baja. Bandara Ewer ini bisa didarati pesawat twin otter Merpati dan Mimika Air dengan rute Jayapura, Timika, Agats. Sedangkan bandara di Pantai Kasuari permukaan landasannya tanah pasir dan batu dan hanya didarati pesawat Merpati rute Merauke-Pantai Kasuari. Intensitas penerbangan menuju Agats dan Pantai Kasuari seminggu dua sampai tiga kali. Namun, ongkos perjalanan sekitar Rp 800.000 dirasa sangat mahal bagi masyarakat setempat.

Selain keterbatasan sarana transportasi, wilayah ini belum terjangkau jaringan listrik dan air bersih. Sumber listrik hanya mengandalkan disel. Jadi, penggunaannya terbatas. Listrik menyala sekitar pukul 18.00 dan padam pukul 00.00. Lebih memprihatinkan lagi adalah sumber air bersih. Air tanah sulit didapat karena merupakan tanah berawa. Terpaksa menggunakan air hujan dan air rawa sebagai air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Berbeda dengan penduduk Papua pedalaman yang makanan pokoknya ubi-ubian. Makanan pokok orang Asmat adalah sagu. Hampir setiap hari mereka makan sagu yang dibuat jadi bulatan-bulatan dan dibakar dalam bara api. Kegemaran lain adalah makan ulat sagu yang hidup di batang pohon sagu. Biasanya ulat sagu dibungkus daun nipah, ditaburi sagu, dan dibakar dalam bara api. Selain itu, sayuran dan ikan bakar dijadikan pelengkap.

Sagu biasanya tumbuh di tempat basah berawa dan termasuk hasil hutan. Sebulan sekali, masyarakat Asmat pergi ke hutan memangkur sagu, tanaman yang termasuk famili palmae. Sagu diperoleh dari batang pohon sagu yang dibelah dua. Bagian dalam yang berwarna putih ditumbuk, setelah itu sagu dicuci dalam palung yang terbuat dari daun sagu. Air kucuran sagu disalurkan ke daun sagu lain dan akhirnya ditampung dalam batang pohon sagu yang isinya telah kosong. Didiamkan beberapa saat sampai akhirnya sagu mengendap.

Ketergantungan suku Asmat pada hutan cukup tinggi. Hal ini terlihat dari kehidupan sehari-hari yang menggunakan bahan-bahan dari hutan, seperti sagu, kayu besi untuk bahan bangunan, perahu, dan media memahat. Hampir 90 persen penduduk bekerja di sektor yang menghasilkan kayu dan nonkayu ini. Didukung luas hutan yang hampir menguasai wilayah Asmat. Sebenarnya hutan yang sebagian besar ada di permukaan tanah berawa ini juga menghasilkan komoditas nonkayu, seperti gaharu, kemiri, kulit masohi, kulit lawang, damar, rotan, dan kemendangan. Bahkan, gaharu populer di masyarakat Asmat karena mendatangkan banyak uang.

Terlepas dari sektor kehutanan, sektor lain yang cukup berpotensi adalah perikanan. Potensi ini merupakan warisan kabupaten induk. Dari 23 kecamatan di Kabupaten Merauke (sebelum pemekaran), tujuh kecamatan berbatasan dengan Laut Arafuru. Lima kecamatan milik Kabupaten Asmat sehingga peluang mengembangkan perikanan sangatlah besar.

Produksi perikanan berupa ikan kakap, cucut, kepiting, udang, teripang, dan cumi-cumi cukup melimpah. Sayang potensi itu belum dimanfaatkan maksimal. Dari 59.307 jiwa (2000) hanya 0,93 persen penduduk yang berprofesi sebagai nelayan. Mereka hanya memanfaatkan laut guna memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

Pekerjaan rumah dalam membangun Asmat cukup berat. Banyak kendala dan masalah yang harus dihadapi. Sarana-prasarana dasar seperti transportasi, kesehatan, pendidikan, telekomunikasi, listrik, dan air bersih belum semua terjangkau oleh masyarakat. Bahkan, data-data statistik pun belum tersedia. Pada tahun anggaran 2004, 41,45 persen dari dana alokasi umum Rp 111 miliar dan dana alokasi khusus Rp 4 miliar akan digunakan untuk belanja modal (belanja pembangunan), seperti proyek fisik peningkatan sarana prasarana kesehatan, perumahan, peribadatan, penunjang pemilu, angkutan laut dan udara, serta frekuensi penerbangan dan proyek nonfisik seperti peningkatan kesadaran orangtua murid akan pendidikan, kesejahteraan guru honorer, penyediaan obat-obatan sesuai kebutuhan dan jenis penyakit, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Adapun sisa anggaran 58,55 persen untuk belanja aparatur.

M Puteri Rosalina/Litbang Kompas

(sumber http://www.infopapua.com)